Hi! I'm Syifa Khansa Salsabila. Best known as 'syifa' or 'syifaks', an ISFP person who is whipped for couch and pillows
- Part of Andalasian, and also future psychologist -

NIM: 2010323004







Skin By : Adam Faiz's
Image : Pinterest
© 2013-2020 syifaks




Gestalt & Kognitif
Sabtu, 05 Desember 2020, Desember 05, 2020

 

GESTALT

Gestalt adalah pendekatan yang menyatakan bahwa manusia akan jauh lebih baik bila melihat suatu hal dalam bentuk keseluruhan (holistik) atau satu kesatuan, tidak dari bagian/elemen yang terpisah. Menurut aliran Gestalt, individu akan cenderung kesulitan untuk memecahkan masalah dan memahami makna dari suatu hal bila ia melihat sesuatu secara terpisah. Agar bisa melihat secara keseluruhan, maka dibutuhkan aktivitas otak yang melibatkan proses berpikir (kognitif dan mental). Dalam melihat/memaknai sesuatu, terdapat pemrosesan yang dinamakan top down processing yang melibatkan pemikiran untuk mempermudah manusia dalam memaknai sesuatu. Ketika individu mempersepsikan sesuatu/melakukan proses berpikir, dari sanalah perilaku individu akan terbentuk.

Anteseden

Immanuel Kant
Ketika individu mendapat sensori stimulus, individu akan mempersepsikan stimulus sebelum merespon stimulus tersebut. Menurut Kant, pengalaman individu berupa interaksi antara stimulus sensoris dengan proses-proses kerja yang ada di faculties of mind atau bagian-bagian otak. Perilaku manusia tidak bisa dijelaskan oleh stimulus saja, melainkan ada pemrosesan yang lebih dalam yakni persepsi. Pemrosesan inilah yang berfungsi untuk melihat suatu permasalahan menjadi satu kesatuan dan terintegrasi, tidak terpisah-pisah.
  • Sensasi: ketika saraf-saraf sensori menerima stimulus
  • Persepsi: bagaimana stimulus akhirnya diterjemahkan oleh otak dan bagaimana otak memaknai sensasi tersebut
Ernst Mach
Tokoh yang menyatakan adanya 2 persepsi yaitu terkait ruang dan waktu

Ehrenfels
Dalam mempersepsikan sesuatu, ada yang dinamakan "Gestaltqualitaten", dimana individu melihat satu kesatuan secara keseluruhan, bukan satu per satu

Founding of Gestalt

Max Wertheimer
Wertheimer adalah salah satu tokoh pendiri aliran Gestalt yang menyatakan adanya phi phenomenon pada tahun 1910, dimana fenomena ini menggambarkan bahwa persepsi memiliki gerak yang terstruktur, sedangkan sensori stimulus tidaklah demikian. Phi phenomenon merupakan salah satu bentuk ilusi dimana individu mempersepsikan objek statis/stagnan sebagai benda yang bergerak/dinamis, dikarenakan objek tersebut diperlihatkan dalam rentang waktu yang begitu cepat bahkan hingga per milisekon. Fenomena ini menunjukkan bahwa persepsi manusia bisa saja berbeda dari stimulus yang diterima, tergantung bagaimana stimulus tersebut dihadirkan. Wertheimer juga menekankan adanya Law of Pragnanz, dimana manusia cenderung ingin memahami/melihat sesuatu dalam bentuk yang lebih sederhana atau keseluruhan, bukan melihatnya secara satu per satu.

Other Theories & Principles

Perception 
  • Perceptual Consistency: kemampuan individu untuk mempersepsikan sesuatu yang sudah familiar secara tepat dan konsisten, meskipun bentuk, ukuran, warna, maupun lokasinya berubah.
  • The Figure-Ground Relationship: dalam melihat suatu objek, persepsi individu dipengaruhi oleh apa yang ia lihat sebagai background dan apa yang ia lihat sebagai figure
  • Perceptual Organization (Kohler)
    • Continuity: manusia cenderung untuk mempersepsikan elemen-elemen yang berdekatan dan tersusun secara bersambung sebagai satu kesatuan yang berkaitan 
    • Proximity: manusia mempersepsikan dan mengeneralisasikan elemen-elemen yang berdekatan sebagai satu hal yang sama
    • Inclusiveness: manusia cenderung melihat bagian yang lebih besar sebagai hal utama dan tidak memperhatikan bagian yang lebih kecil. Dalam kalimat lain, manusia cenderung mempersepsikan sesuatu sebagai satu kesatuan dari bagian yang lebih besar atau bagian yang tampak lebih menonjol.
    • Similarity: manusia cenderung menggabungkan elemen-elemen yang terlihat sama atau serupa dan mempersepsikannya sebagai satu kesatuan
    • Closure: ketika individu melihat sesuatu yang sudah familiar namun tidak semua bagiannya dapat terlihat, individu cenderung mampu untuk melengkapi bagian-bagian yang tidak terlihat tersebut dan bisa mempersepsikannya secara keseluruhan sebagai sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya
  • Subjective vs Objective Relativity: Ketika melihat sesuatu, individu cenderung mempersepsikannya berdasarkan proses yang ada di otak. Informasi sensorik dapat ditransformasikan oleh persepsi sehingga akan mempengaruhi bagaimana individu berperilaku. Contohnya seperti seseorang yang lari ketika melihat suatu geographical environtment yaitu seekor anjing yang berkeliaran tanpa memakai kalung rantai. Ketika melihat anjing tersebut, orang tersebut mempersepsikannya sebagai situasi/behavioral environtment yang berbahaya sehingga ia memilih untuk lari. 
Learning
  • Insight "Aha Moment": momen dimana individu seolah-olah mendapatkan ide secara tiba-tiba untuk menyelesaikan suatu permasalahan, ketika ia sedang diam dan termenung. Tetapi sebenarnya, insight tidak didapatkan secara tiba-tiba. Ketika individu menemui jalan buntu dalam menyelesaikan permasalahan dan memilih untuk diam sejenak, sebenarnya otak individu bekerja dan mencoba untuk melihat stimulus yang terpisah. Otak akan melibatkan proses mental yaitu dengan melakukan mental restructuring, dimana otak mencoba untuk mengaitkan elemen-elemen yang terpisah sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh. Ketika individu mampu menstruktur kembali cara pandang dan mengaitkan antar elemennya, dari sanalah insight akan muncul.
  • Transposition: ketika individu dihadapkan pada permasalahan yang mirip dengan permasalahan yang pernah ia hadapi, individu akan cenderung menyelesaikannya dengan pola yang pernah ia terapkan pada permasalahan yang pernah ia hadapi sebelumnya
Productive Thinking
Menurut Wertheimer, teori Gestalt dapat diterapkan pada sistem pendidikan. Dalam proses belajar, individu harus memahami struktur permasalahan terlebih dahulu dan melihat keterkaitan antara satu sama lain, agar individu dapat melihat garis besar permasalahan secara keseluruhan sehingga membantu individu dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Proses belajar ini sangat dipengaruhi oleh emosi, persepsi, tingkat intelektual, dsb.

Memory (Koffka)
Koffka menekankan bahwa otak memiliki sistem khusus untuk mendistribusikan informasi. Selain itu, di dalam otak terdapat pula proses memori yang melibatkan proses penyimpanan informasi.

Field Theory (Kurt Lewin)
  • Life space: perilaku & pemikiran manusia dipengaruhi oleh life space yang terdiri dari:
    • Internal events: kondisi yang dirasakan dari dalam tubuh (lapar, sakit, pusing, dll)
    • External events: apa yang dilihat individu di lingkungan sekitarnya
    • Recollections of prior experience: ingatan individu terkait pengalaman sebelumnya
  • Principle of contemporanelty: kehidupan/life space orang saat ini mempengaruhi manusia dalam berpikir dan bertindak. Menurut Lewin, pikiran dan tindakan individu tidak akan dipengaruhi oleh pengalaman yang tidak individu sadari atau yang tidak dirasakan dalam life spacenya
  • Conflict
    • Approach-approach conflict: individu dihadapkan pada 2 pilihan yang menyenangkan
    • Avoidance-avoidance conflict: individu harus memilih di antara 2 pilihan yang tidak disenangi
    • Approach-avoidance conflict: individu dihadapkan pada 1 pilihan yang menyenangkan, tetapi pilihan tersebut juga memiliki konsekuensi yang harus ditanggung
Kontribusi besar gestalt dalam bidang psikologi salah satunya yakni mempopulerkan pandangan terkait perspektif dan keterlibatan persepsi, juga mempengaruhi perkembangan psikologi kognitif. Saat ini, pendekatan gestalt populer digunakan untuk menjelaskan fenomena di bidang social psychology. Meskipun demikian, pendekatan gestalt ini mendapat kritikan dikarenakan terdapat beberapa istilah yang belum dapat dijelaskan secara lebih rinci dan mendalam.


KOGNITIF

Kognitif adalah salah satu pendekatan terkini dalam psikologi dan berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Psikologi kognitif fokus pada penjelasan terkait proses berpikir dan pengolahan informasi di dalam otak manusia, yang akan menentukan perilaku individu. Konsep-konsep yang dibahas di psikologi kognitif meliputi memori, pembentukan konsep, atensi/perhatian, penalaran, penarikan kesimpulan, problem-solving, mental imagery (membayangkan sesuatu), penilaian/judgement, dan pemahaman bahasa/languange.

Early Influence

1932 - Frederic Charles Barlett
Pada tahun 1932, pendekatan-pendekatan yang mengarahkan pada proses mental sudah mulai bermunculan. Menurut Barlett, informasi yang diterima oleh individu akan mengalami pengkodean (encoded) untuk kemudian disimpan (stored) dan direcall. Istilah-istilah dalam proses penerimaan informasi ini masih dipakai pada pendekatan-pendekatan psikologi saat ini.

Jean Piaget
Piaget menjelaskan konsep-konsep yang masih sangat relevan hingga saat ini, terkait proses-proses yang terjadi di setiap tahapan perkembangan kognitif manusia sejak lahir hingga dewasa. Menurut Piaget, manusia memiliki tingkatan kognitif yang didasarkan oleh usia individu. Ia juga mengatakan bahwa perkembangan struktur kognitif yang matang tidak lepas kaitannya dari interaksi antara proses kognitif otak dengan lingkungannya.

1948 - Cybernatic
Pada tahun ini, orang-orang sudah mulai menyadari bahwa proses kognitif/proses mental akan sulit dipahami bila tidak disimulasikan dalam bentuk yang bisa diamati. Dari situlah mulai muncul ketertarikan untuk mensimulasikannya pada mesin, dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman mengenai proses berpikir dan bagaimana individu akhirnya bisa memecahkan masalah. 

1959 - Languange and Information (Noam Chomsky)
Chomsky menyatakan bahwasanya manusia memiliki kemampuan bawaan/innate untuk memproses bahasa. Ketika lahir, bayi memiliki languange acquisition device di dalam struktur otaknya, dimana bayi terlahir dengan kapasitas untuk memahami bahasa.

Cognitive Revolution
Pada tahun 1960, Donald Hebb selaku ketua APA pada saat itu mulai tertarik dengan konsep mesin khususnya komputer sebagai model untuk mempelajari proses kognitif manusia. Dan akhirnya dari tahun 1990an berkembanglah Artificial Intelligence (AI) yang terus berkembang hingga sekarang, terutama di negara-negara maju yang sering memanfaatkan AI untuk menciptakan inovasi teknologi seperti Siri, Alexa, Google Maps, dan masih banyak lagi. Pengembangan AI ini tidak lepas kaitannya dari proses kognitif, dimana kedua hal ini saling berkaitan satu sama lain.
Humanistic
Sabtu, 28 November 2020, November 28, 2020
Humanistik merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang manusia sebagai satu kesatuan antara mind (pikiran), body (raga), & spirit. Aliran ini muncul pada sekitar tahun 1960-an sebagai kritik atas aliran behaviorisme dan psikoanalisa, dikarenakan kedua aliran ini dianggap cenderung mengabaikan pentingnya eksistensi manusia.

Humanistik menekankan bahwasanya setiap individu memiliki kebebasan yang besar untuk menentukan masa depannya dan sangat potensial untuk mengembangkan pribadinya. Aliran ini fokus pada teori eksistensi manusia, dimana setiap manusia memiliki kemampuan-kemampuan khusus yang menjadi kualitas khas/unik dari setiap individu. Humanistik sebagai revolusi ketiga dalam psikologi (third-force psychology) memandang manusia sebagai makhluk yang otoritas atas kehidupannya sendiri dan memiliki kebebasan untuk membuktikan eksistensi dirinya. 


ANTESEDEN

1838-1917 (Phenomenology)
Metode fenomenologi dicetuskan oleh Edmund Husserl, yaitu metode yang berakar pada kesadaran intensionalitas. Konsep kesadaran intensionalitas didirikan oleh Franz Brentano, dimana intensionalitas merupakan kesadaran yang selalu mengarah kepada sesuatu (misal: kesadaran terhadap waktu, kesadaran terhadap eksistensi diri, dll).

1939-1945 (Eksistensial)
Teori eksistensial menekankan kebebasan dan kemerdekaan individu dalam menentukan pilihan hidupnya.
  • Martin Heidegger: Heidegger berpendapat bahwa dunia menjadi komponen yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Menurutnya, manusia dalam kehidupannya memiliki free-will atau kehendak bebas untuk menentukan eksistensi dirinya. Individu dikatakan memiliki authentic life jika ia mampu mengoptimalkan dirinya, dan dikatakan menjalani inauthentic life jika individu merasa cemas dan bersalah dikarenakan ketakutannya terhadap kematian. Meskipun demikian, individu memiliki batasan dalam menentukan jalan hidupnya, dimana terdapat hal-hal yang tidak akan bisa dipilih oleh individu itu sendiri. Batasan ini dikenal dengan sebutan throwness.
  • Ludwig Binswanger: Binswanger berorientasi pada bagaimana individu menentukan eksistensi hidupnya di masa sekarang (present). Ia menggunakan psikoterapi Daseinalysis, dimana ia fokus terhadap kecemasan, ketakutan, nilai-nilai yang dialami, pemikiran, dan hubungan sosial individu saat ini. Ia juga mementingkan bahwa setiap individu memiliki hubungan subjektif tersendiri dan tidak bisa digeneralisasikan. Menurut Binswanger, individu dapat mengambil hikmah dan makna kehidupan dari setiap pengalaman pahit yang menimpanya, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwasanya pengalaman tersebut dapat membuat individu merasa terpuruk. Selain itu, Binswanger mengemukakan pemikirannya mengenai Modes of Existence:
    • Umwelt: bagaimana individu memandang apa yang terjadi di dunia sekitarnya
    • Mitwelt: bagaimana interaksi antar individu
    • Eignwelt: pemikiran individu dalam memaknai dirinya sendiri dari pengalaman yang ia lalui
  • Rollo May: May menyatakan bahwa terdapat dilema antara manusia sebagai subjek vs manusia sebagai objek (Human Dilema). Menurut May, setiap kebebasan memiliki tanggung jawab yang harus dipikul oleh individu. Tanggung jawab ini dapat menimbulkan kecemasan pada individu, yang dibagi menjadi kecemasan normal dan kecemasan neurotik (kecemasan yang menjadi gangguan pada individu). Kecemasan normal ialah kondisi ketika individu merasa cemas terhadap apa yang harus dilakukan agar bisa bertanggungjawab dengan kebebasan yang ia miliki sehingga mampu mengoptimalkan potensinya. Sedangkan kecemasan neurotik ialah ketika seseorang justru merasa takut terhadap kebebasan yang ia miliki. Banyak individu yang menyerah dari kebebasan yang ia miliki dan lari dari tanggung jawabnya, dikarenakan ketidakberanian mereka untuk menghadapi takdir tersebut. Dalam praktiknya, May menggunakan narrative therapy untuk memahami kisah hidup seseorang. Ia juga menyatakan bahwa setiap manusia memiliki sisi baik dan sisi buruk. Pernyataan inilah yang menjadi dasar terbentuknya Positive Psychology, yakni sebuah pendekatan yang bertujuan untuk mengoptimalkan individu agar menjadi lebih baik, melalui peninjauan dari unsur-unsur positif yang ada dalam dirinya.
  • George Kelly: Kelly berpendapat bahwasanya manusia memiliki kebebasan untuk mengambil tindakan yang dirasa paling tepat berdasarkan prediksinya. Kelly mengembangkan fixed-role therapy, dimana terapi ini bertujuan untuk membantu klien mengubah pandangannya tentang hidup dan memahami sudut pandang orang lain dengan melakukan peran yang sudah ditentukan.
1950 (Humanistik)
  • Abraham Maslow: merupakan penemu teori humanistik. Ia terkenal akan teori hierarki kebutuhan atau Hierarchy of Needs. Abraham Maslow mengurutkan kebutuhan seseorang berdasarkan tingkat prioritasnya, dari tingkat dasar yaitu kebutuhan basic sampai ke tingkat tertinggi. Kebutuhan yang paling dasar meliputi kebutuhan fisiologis, seperti air, makanan, udara, tidur, dll. Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi, muncul kebutuhan dalam merasakan keamanan. Selanjutnya, ada pula kebutuhan terhadap cinta, kasih sayang, dan kepemilikan. Dan yang terakhir, manusia membutuhkan harga diri atau self-esteem sebagai kebutuhan dasarnya. Tingkat tertinggi dalam teori hierarki kebutuhan ini yaitu pengaktualisasian diri (self actualization), yang manusia butuhkan untuk memvalidasi dirinya dan menunjukkan dirinya kepada orang lain ketika 4 kebutuhan dasar tersebut telah terpenuhi. Maslow juga membedakan antara demotivated dan being-motivated. Demotivated ialah kondisi dimana seseorang berfokus untuk memenuhi kebutuhan basicnya terlebih dahulu. Bila basic need telah terpenuhi, barulah seseorang akan merasa termotivasi/being motivated untuk memenuhi kebutuhan lain seperti kecantikan, keadilan, dll.



  • Carl Rogers: Roger mengembangkan salah satu teori cabang humanistik yang disebut dengan Client Center Therapy (1951). Ia juga memperkenalkan teori positive regard, dimana setiap manusia memilki kebutuhan akan penghargaan positif yang harus dipenuhi dan akan berpengaruh terhadap perkembangan diri. Perkembangan diri ini dipengaruhi oleh kasih sayang ibu yang didapatkan seseorang semasa kecil. Positive regard terbagi menjadi 2, yakni conditional positive regard (penghargaan yang diberikan bila memenuhi syarat tertentu) dan unconditional positive regard (penghargaan atas kemampuan seseorang yang tidak bersyarat, seperti ibu yang menyayangi anaknya tanpa pamrih).

EKSISTENSIAL VS PSIKOLOGI HUMANISTIK

Persamaan:
  1. Manusia memiliki free-will & bertanggung jawab atas kebebasan yang ia miliki
  2. Setiap individu memiliki kualitas khas yang menjadi keunikan masing-masing individu
  3. Manusia harus dipandang dan dipelajari sebagai satu kesatuan
  4. Authentic life dipandang sebagai opsi yang lebih baik dibandingkan inauthentic life
  5. Manusia tidak bisa dipelajari secara tradisional
Perbedaan:
  1. Humanistik menekankan asumsi bahwa manusia pada dasarnya baik, sedangkan eksistensial lebih menekankan asumsi bahwasanya manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya.
  2. Eksistensial cenderung menekankan pentingnya makna kematian sebagai puncak dan akhir dari eksistensi manusia
Kritikan
  1. Humanistik dianggap terlalu mengkritisi metode-metode terdahulu seperti behaviorisme dan psikoanalisa
  2. Beberapa konsep dinilai lebih abstrak dan sulit untuk dipahami
Kontribusi terhadap Psikologi
  1. Mempopulerkan pandangan bahwasanya manusia harus dipelajari secara keseluruhan
  2. Mengembangkan dan mempopulerkan teori untuk memahami motivasi, goals, dan keunikan manusia
  3. Melatarbelakangi terbentuknya pendekatan Positive Psychology yang fokus pada pengoptimalisasian diri manusia agar dapat menjadi individu yang lebih baik
Psychoanalysis
Sabtu, 21 November 2020, November 21, 2020

 


Mendengar kata 'psikoanalisa', pasti masih terbilang asing bagi telinga sebagian orang awam. Namun jika mendengar kata 'hipnosis/hipnotis', pasti kebanyakan orang paham apa maksudnya. Di kalangan medis, hipnosis ialah suatu metode yang digunakan oleh para ahli untuk mengulik trauma yang tersimpan di alam bawah sadar seseorang sebagai upaya penyembuhan alternatif bagi para penderita penyakit mental. Hipnosis pada zaman dahulu digunakan terhadap klien yang mengalami histeria, yakni suatu kondisi di mana seseorang mengalami kelumpuhan yang tidak diakibatkan oleh gangguan/penyakit fisik, melainkan dipicu oleh trauma seseorang. Hipnosis inilah yang menjadi salah satu metode dari psikoanalisa, dimana konsep psikoanalisa ini dicetuskan oleh Sigmund Freud (1856-1939).


ANTESEDEN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN

1880: Josef Breuer

Sebelum dicetuskan teori psikoanalisa oleh Freud, kelahiran teori ini diawali pada tahun 1880 dimana orang-orang pada zaman itu banyak yang mulai mengalami gangguan kejiwaan. Salah satu gangguan kejiwaan yang sering muncul ialah histeria, yang didominasi oleh perempuan. Josef Breur menjadi tokoh pertama yang mendobrak pemikiran bahwa histeria disebabkan oleh faktor genetik. Ia memiliki pandangan bahwa terdapat faktor psikologis yang menjadi penyebab timbulnya histeria, sehingga tidak bisa ditangani dengan tindakan medis. 

Breur pertama kali menerapkan pendekatan psikologi dengan metode hipnosis. Metode ini ia terapkan pada pasien pertamanya yaitu Anna O yang mengalami kelumpuhan gerak, kebutaan, dan gangguan bicara. Hipnosis yang dilakukan ialah dengan membuat klien berada dalam kondisi yang sangat rileks sehingga atensinya tidak penuh, agar dapat menggali informasi yang tersimpan di dalam alam bawah sadar. Dari kasus Anna O, ia menyimpulkan bahwa kelumpuhan yang Anna alami disebabkan oleh pengalaman traumatiknya ketika ia harus selalu siap siaga untuk merawat ayahnya yang sakit parah. 

Setelah Breur menemukan akar permasalahannya, ia menerapkan metode katarsis dimana ia meminta Anna untuk meluapkan segala emosi yang selama ini ia tekan. Tetapi pada terapi ini, ada beberapa dampak yang harus dihindari yakni:

  1. Transference: kondisi dimana klien menganggap terapis sebagai objek traumanya, sehingga klien melampiaskan seluruh perasaannya kepada terapis
  2. Countertransference: ketika terapis akhirnya ikut melibatkan perasaan pribadinya saat terjadi transference
Jika 2 kondisi tersebut terjadi, maka proses terapi harus dihentikan.

1885-1889: Jean Martin Charcot

Pada tahun 1885-1889, muncullah Jean Martin Charcot yang kemudian ikut mendalami konsep mengenai histeria. Ia menyatakan bahwa histeria juga bisa terjadi pada laki-laki, karena semua orang berpotensi untuk mengalami gangguan traumatik. Karena pandangan Charcot dan Breur yang pada saat itu bertentangan dengan pendapat mainstream bahwa histeria seharusnya ditangani melalui pendekatan neurofisiologi, maka kedua tokoh ini membuktikan pandangan baru mereka melalui studi mengenai metode katarsis pada tahun 1886. 

Pandangan kedua tokoh ini akhirnya menarik perhatian dari Sigmund Freud yang kala itu masih berstatus sebagai mahasiswa kedokteran. Setelah bertukar pikiran dengan Charcot & Breur, akhirnya pada tahun 1889 Freud mulai memperdalam ilmu hipnosis dan mempelajari bagaimana cara untuk menanamkan sesuatu ke dalam keadaan bawah sadar seseorang serta mengulik memori/kenangan masa lalunya.

1892-1898: Sigmund Freud

Setelah memperdalam ilmu hipnosis, Freud berpandangan bahwa hipnosis ini tidak begitu efektif. Sehingga pada tahun 1892-1898, ia memperkenalkan teori free-association dimana ia tidak membuat kliennya berada dalam keadaan unconscious, melainkan dalam keadaan sadar. Namun dalam keadaan sadar, orang akan cenderung untuk melakukan resistence/pertahanan ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang memicu ingatan mengenai pengalaman traumatiknya. Oleh karena itu, alih-alih menanyakan secara langsung dan to the point, Freud justru meminta klien untuk mengutarakan segala pikiran yang muncul dibenaknya ketika mendengar suatu kata yang disebutkan oleh Freud. Menurut Freud, ketika klien berbicara lepas mengenai apa yang ada dibenaknya, tanpa ia sadari ia akan berbicara mengenai ingatan yang ada di alam bawah sadarnya. Dari sinilah terapis dapat menemukan akar permasalahan dari pengalaman traumatiknya

Meskipun potensi terjadinya transference dan countertransference masih tetap ada ketika melakukan penanganan dengan metode free-association, tetapi masalah yang timbul dapat dihadapi secara lebih rasional karena klien berada dalam keadaan sadar, dan dinilai lebih efektif serta efisien dibandingkan penanganan melalui metode hipnosis.

1896-1898

Setelah mempopulerkan teori free-associaton, Freud menyimpulkan bahwasanya histeria merupakan traumatic experience yang ditekan (repressed) dan orang yang mengalaminya tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikannya, sehingga memicu penyakit/gangguan fisik (physical symptoms). Freud menyatakan pentingnya teori free-association dalam menghadapi permasalahan tersebut, dimana permasalahan harus dihadapi secara rasional dalam keadaan sadar. Teori inilah yang memunculkan perhatian masyarakat terhadap unconsiousness yang terdapat pada otak manusia. Dalam menangani beberapa klien yang mengalami histeria, Freud juga menemukan fakta bahwa banyak pengalaman traumatik yang memiliki kesamaan dengan pengalaman traumatis seksual semasa kecil.

1996

Pada tahun 1996, Freud melakukan self-analysis untuk mengetahui alasan dari mengapa ia mengalami depresi setelah kematian ayahnya, sedangkan ia sendiri tidak memiliki hubugan yang dekat dengan ayahnya. Dari situlah Freud menemukan konsep baru dalam bidang psikoanalisa, melalui analisis mimpi. Berdasarkan analisis mimpi, ia menyimpulkan bahwa alam bawah sadar cenderung memberi sinyal kepada otak pada saat tidur. Hal inilah yang membuat ingatan mengenai pengalaman traumatik seseorang terkadang muncul ketika seseorang sedang bermimpi, karena pada saat tidur manusia tidak sepenuhnya sadar sehingga kontrol atensi akan berkurang. 

Di dalam mimpi, ada yang dinamakan manifest content & latent content. Contohnya ialah ketika seseorang mimpi dikejar oleh ular, ular yang mengejar seseorang tersebutlah yang menjadi manifest content dari mimpi. Sedangkan latent contentnya ialah ingatan dia yang memicu timbulnya mimpi dikejar ular tersebut, seperti trauma karena sering dikejar-kejar atau dibuntuti oleh seorang penguntit. Namun, teori analisis mimpi ini tidak begitu disarankan untuk dijadikan suatu metode pengobatan, karena belum terbukti keilmiahannya.

Oedipus Complex

Freud mengemukakan teorinya mengenai Oedipus Complex. Oedipus Complex ialah istilah yang menggambarkan suatu kondisi ketika seorang anak lelaki merasa bahwa ibunya lebih perhatian kepada ayahnya dibandingkan dengan dirinya, sehingga timbullah kecemburuan besar terhadap ayahnya karena keinginannya untuk memiliki sang ibu seutuhnya. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan afeksi sang anak dimana ia ingin selalu merasa disayang dan diperhatikan oleh sang ibu, sehingga sang anak akan sangat membenci ayahnya jika kebutuhan afeksinya tidak terpenuhi oleh sang ibu. Ketika sang anak lelaki berada di titik dimana ia merasa sangat cemburu terhadap ayahnya, ia akan mengobservasi perilaku ayahnya dan akhirnya ia akan meniru perilaku sang ayah. Menurut Freud, Oedipus Complex inilah yang mempengaruhi cara anak-anak belajar tentang peran identitas seksualnya. Teori inilah yang dipercaya oleh Freud sebagai penyebab depresi yang ia alami setelah kematian ayahnya, karena rasa bencinya terhadap sang ayah ketika masih muda.

Selain itu, Freud juga mengemukakan beberapa teori lainnya seperti slip of the tongue dan mistakes in writing. Menurutnya, ketika seseorang keceplosan, tanpa disadari ia sudah mengatakan apa yang ada di alam bawah sadarnya. Sama halnya ketika seseorang tanpa sengaja menulis sesuatu yang tidak ia rencanakan sebelumnya.


FREUD'S THEORY: CONSCIOUSNESS LEVEL

Freud berpendapat bahwa kesadaran yang manusia ketahui ibarat puncak gunung es saja, dan di bawah permukaan yang terlihat terdapat bagian pikiran yang tidak kita sadari (alam bawah sadar). Menurut Freud, di dalam proses mental manusia terdapat 3 hal yang menentukan perilaku yang akan kita tunjukkan, yaitu:

  1. Id: yaitu insting, impulse, atau dorongan alamiah pada setiap manusia yang sudah menjadi bawaan sejak lahir dan harus dipenuhi. Id menempati alam bawah sadar/unconscious levelPada level ini, informasi sudah terpendam sangat dalam di alam bawah sadar, dan perlu bantuan dari ahlinya untuk menggali informasi tersebut. 
  2. Superego: merupakan kumpulan nilai-nilai yang ditanamkan pada seorang individu sejak kelahirannya dan telah terinternalisasi ke dalam diri seseorang, baik dari orang tua maupun lingkungan sosialnya. Dari sanalah seorang individu dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan hati nuraninya. Superego menempati preconscious level, yakni level dimana seseorang memerlukan usaha untuk mengambil informasi dari otak.
  3. Ego: berperan dalam menjembatani antara dorongan id dan pertimbangan dari superego, sehingga ego lah yang memutuskan apakah seseorang harus mengutamakan ego ataukah superegonya. Ego menempati conscious level (level dimana seseorang dalam kondisi sadar/alert dan dapat mengakses informasi dari otak dengan mudah) dan preconscious level, karena ia berhadapan langsung dengan realita. 


FREUD'S THEORY: DEFENSE MECHANISM

Freud mengemukakan teori lanjutan mengenai defense mechanism, yakni mekanisme pertahanan diri yang dilakukan seseorang untuk membentengi dirinya dari pergejolakan emosi supaya terhindar dari perasaan tidak nyaman. Ada 6 mechanism yang cenderung dilakukan individu untuk mempertahankan kondisi nyamannya, yakni:

  1. Repression: kecenderungan individu untuk menekan perasaan-perasaan yang mengganggunya alih-alih mengekspresikan/mengungkapkannya. Contohnya dalam kasus Oedipus Complex, seorang anak laki-laki cenderung menekan perasaan cemburu dan amarah kepada ayahnya, sehingga ia pada akhirnya meniru perilaku ayahnya
  2. Denial: kecenderungan individu untuk menyangkal situasi yang ia hadapi. Contohnya ketika seorang perokok berat dinasihati oleh keluarganya untuk berhenti merokok karena berbahaya bagi tubuh, ia akan cenderung mencari-cari alasan untuk menyanggah nasihat-nasihat tersebut karena merokok sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat berat untuk ia tinggalkan
  3. Projection: kecenderungan individu untuk menghilangkan rasa bersalahnya terhadap perasaan yang ia miliki kepada seseorang, dengan memproyeksikan perasaan itu seolah-olah orang lainlah yang memiliki perasaan tersebut kepadanya. Contohnya ketika seseorang merasa bahwa ia mempunyai perasaan yang tidak baik seperti rasa benci terhadap temannya, maka ia akan berpikir bahwa temannyalah yang membencinya terlebih dahulu.
  4. Displacement: kecenderungan individu untuk melampiaskan amarahnya kepada orang lain. Contohnya ketika seorang ayah memarahi anak-anaknya di rumah sebagai bentuk pelampiasan amarah yang seharusnya ditujukan kepada bosnya di kantor
  5. Regression: kemunduran tahap perkembangan seseorang, yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya sudah bisa dilakukan. Regression biasanya terjadi pada anak-anak, dan disebabkan oleh stress yang dialaminya. Contohnya yaitu anak SD yang khawatir jika orang tuanya lebih menyayangi adik barunya kelak, sehingga ia kembali sering mengompol dikarenakan stress yang disebabkan oleh kehadiran adik baru.
  6. Sublimation: kecenderungan individu untuk melampiaskan emosi dalam bentuk yang acceptable dalam masyarakat, atau dilampiaskan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Contohnya ketika seseorang cenderung untuk mengurangi rasa stressnya dengan berolahraga, alih-alih melampiaskannya kepada keluarganya.

FREUD'S PSYCHOSEXUAL STAGE

Teori lain dari Freud yang cukup terkenal ialah Freud's psychosexual stages, atau tahapan perkembangan psikoseksual yang akan mempengaruhi perilaku dan kepribadian individu ketika beranjak dewasa. Terdapat 5 tahapan dimana setiap tahapan memiliki kepuasan masing-masing yang harus dipenuhi, yakni:
  1. Oral (0-18 bulan): kepuasan bayi terjadi di mulut, seperti menyusu/menghisap, menggigit, dan mengunyah. Jika kepuasan ini tidak terpenuhi, maka ketika dewasa anak tersebut memiliki potensi untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpenuhi pada tahap oral, seperti merokok, gigit-gigit jari, atau kecanduan mengunyah permen karet
  2. Anal (18-36 bulan): letak kepuasan bayi fokus pada toilet training, dimana bayi mulai mampu untuk mengontrol kapan seharusnya ia buang air kecil dan buang air besar. Menurut Freud jika pengalaman toilet training seorang anak kurang menyenangkan pada tahap ini, maka ia akan tumbuh menjadi individu yang kurang rapi.
  3. Phallic (3-6 tahun): tahap dimana anak-anak sudah menyadari perbedaan alat kelamin yang membedakan antara laki-laki dan perempuan. Tahap ini memiliki keterkaitan dengan Oedipus Complex, dimana ketika seorang anak sudah sadar akan perbedaan jenis kelamin dan mulai membangun ketertarikan dengan ibunya, disitulah ia mulai mengobservasi ayahnya dan mulai merepress emosi tentang sexual feelingnya.
  4. Latency (6 tahun-pubertas): Tahap dimana anak sudah mulai menunjukkan ketertarikan di bidang lain seperti bermain atau berteman, dengan mengesampingkan sexual feelingnya. Pada tahap inilah seorang anak cenderung melakukan identification process, seperti mengawasi perilaku ayahnya atau mengamati perilaku teman-temannya.
  5. Genital (masa setelah pubertas): Tahap dimana hasrat seksual mulai muncul kembali, contoh pemenuhannya yaitu seperti pacaran atau menikah.

FREUD'S THEORIES: CRITICISM & CONTRIBUTIONS

Kritikan terhadap teori Freud:
  1. Teori Freud dikembangkan hanya berdasarkan klien-kliennya saja, sehingga cara pengumpulan datanya belum mengikuti metode scientific seperti yang umum dipakai
  2. Teorinya sangat tertutup karena Freud tergolong ke dalam tipe orang yang dogmatis, sehingga ia cenderung menolak banyak masukan dari ilmuwan-ilmuwan lain
  3. Freud terlalu fokus pada seksualitas, karena manusia tidak sepenuhnya didorong oleh gairah-gairah seksual seperti libido
  4. Teknik-teknik psikoanalisis pada zaman dahulu membutuhkan waktu yang lama sehingga mematok biaya yang mahal. Keefektifan metodenya pun belum begitu jelas
  5. Teori Freud tidak bisa diuji tingkat error/kesalahannya (falsiability) karena metode pengumpulan datanya masih berdasarkan observasinya sendiri

Kontribusi Freud terhadap psikologi:
  1. Menjadi salah satu tokoh yang membuka psikologi ke bidang keilmuan lainnya seperti kedokteran atau bidang kemiliteran, dan cukup berpengaruh dalam membawa nama psikologi sebagai landasan pengobatan dan landasan treatment dari gangguan kejiwaan
  2. Selain membahas tentang abnormal behavior, dia juga menjelaskan tentang normal behavior seperti mimpi, slip of the tongue, dan mistakes in writing
  3. Mengembangkan dan mempopulerkan teori psikoanalisis, terutama konsep mengenai:  
    • Unconsciousness motivationproses mental individu yang melibatkan dorongan-dorongan unconscious
    • Infantile experience: pengalaman-pengalaman yang didapatkan pada masa bayi dan balita (menjadi hal yang sangat krusial bagi kehidupan individu di masa mendatang)
    • Anxiety: kecemasan yang dirasakan individu

Setelah Freud meninggal, pengembangan psikoanalisis dilanjutkan oleh putrinya yang bernama Anna Freud. Ia mengembangkan teori psikoanalisis pada anak-anak, yang sebelumnya dikembangkan khusus pada orang dewasa. Beberapa tokoh yang ikut mengembangkan teori psikoanalisa Freud antara lain:
  • Jung: salah satu rekan Freud yang akhirnya mengkritisi gairah seksual yang dikemukakan oleh Freud, yakni libido. Selain itu, ia menambahkan kritikan bahwasanya unconsciousness juga memiliki level personal dan collective
  • Adler: menjelaskan tentang adanya inferiority complex pada bayi
  • Horney: menyatakan ketidaksetujuannya dengan sexual conflict yang dikemukakan Freud. Menurutnya, gangguan psikologis cenderung muncul karena adanya societal conditions dan interpersonal relationship, atau ditentukan oleh hubungan individu dengan orang lain (khususnya hubungan anak-orang tua)

CONCLUSION

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwasanya pendekatan psikoanalisis mengemukakan pengaruh antara unconsciousness terhadap perilaku individu. Meskipun demikian, tidak semua perilaku didasarkan oleh unconsciousness. Psikoanalisa menyatakan bahwa perilaku dipengaruhi oleh unconsciousness motivation, dan banyak diterapkan untuk menjelaskan gangguan-gangguan psikologis dalam setting klinis yang berkaitan dengan pengalaman traumatik. Pendekatan ini juga banyak diterapkan untuk menjelaskan tentang perilaku individu dalam konteks kepribadian.

Functionalism & Behaviorism
Sabtu, 14 November 2020, November 14, 2020

Sebelumnya dalam pembahasan mengenai psikologi modern (dapat dilihat kembali di sini), kita telah mengetahui bahwa terdapat bermacam aliran dalam psikologi yang berusaha untuk mempelajari psikologi secara ilmiah. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas lebih lanjut mengenai 2 aliran psikologi modern, yakni fungsionalisme dan behaviorisme.


FUNCTIONALISM

Aliran fungsionalisme didirikan oleh William James bersama dengan John Dewey. Fungsionalisme ialah aliran psikologi yang cenderung menekankan pada proses mental, dan lebih fokus kepada peranan dan fungsi-fungsi dari kesadaran. Aliran fungsionalisme menganggap bahwa kesadaran yang meliputi pikiran, emosi, persepsi indrawi, dan kehendak bebas (free-will) merupakan adaptasi individu terhadap lingkungan fisik. Fungsionalisme terdiri dari aliran fungsionalisme Chicago dan Columbia. Pemanfaatan fungsionalisme Chicago diterapkan dalam bidang pendidikan, sedangkan pemanfaatan fungsionalisme Columbia diterapkan dalam bidang yang lebih beragam sehingga cakupannya lebih luas. 

Menurut Fred S. Keller, terdapat beberapa karakteristik fungsionalis psikologi, yaitu:
  1. Fungsionalis menentang strukturalis mengenai pandangan mereka terhadap fokus objek kesadaran
  2. Fungsionalis lebih menekankan pada fungsi akal daripada penjelasan statis mengenai isinya
  3. Fungsionalis menginginkan psikologi menjadi ilmu praktis, bukan sekedar ilmu murni
  4. Fungsionalis mendesak perluasan mengenai penelitian dan metode yang dipakai dalam psikologi
  5. Fungsionalis menerima proses mental dan perilaku sebagai objek penting dari psikologi
  6. Fungsionalis lebih tertarik pada penyebab perbedaan individu daripada penyebab kemiripan individu
  7. Fungsionalis tertarik pada 'mengapa' proses mental terjadi dan tingkah laku yang berkaitan dengan motivasi

Tahap Perkembangan Fungsionalisme
  1. Moral dan Mental (1640-1776) ➡ Psikologi masih tergabung dengan topik-topik seperti etika, ketuhanan, dan filsafat. Tokoh yang berperan dalam perkembangan di tahap ini yakni Samuel Johnson dan John Locke
  2. Filsafat Intelektual (1776-1886) ➡ Psikologi di Amerika mulai terpisah menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri dan dipengaruhi oleh filsafat akal sehat Skotlandia
  3. Renaissance U.S. (1886-1896) ➡ Psikologi menjadi ilmu empiris yang terlepas dari agama dan filsafat. Perbedaan individu, kepraktisan, dan adaptasi terhadap lingkungan menjadi fokus utama dari psikologi
  4. Fungsionalisme Amerika (1896-present) ➡ Pada tahap ini, mulailah berdiri sekolah fungsionalisme yang di dalamnya menggabungkan sains, fokus terhadap kepraktisan, penekanan pada individu, dan teori evolusi.

Tokoh-tokoh Aliran Fungsionalisme

William James
James adalah pelopor aliran fungsionalisme yang berkontradiksi dengan aliran strukturalisme. Ia melontarkan ketidaksetujuannya terhadap penyelidikan yang terlalu mendalam tentang struktur jiwa seseorang. Menurutnya, otak, kesadaran/consciousness dan pikiran/mind seseorang terus mengalami perubahan seiring waktu. James menyatakan bahwa psikologi tidak sekedar mempelajari elemen dari mind process, tetapi juga mengamati bagaimana fungsi adaptif dari mind itu sendiri. Dengan penekanan pada fungsi dari kesadaran, ia menganggap bahwa metode introspeksi dari strukturalisme terlalu membatasi. Oleh karena itu menurut ahli fungsionalis, dibutuhkan yang namanya observasi atau penelitian perilaku aktual untuk melengkapi data yang berasal dari introspeksi. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui bagaimana organisme mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Aliran Fungsionalisme Chicago
James Rowland Angell
Angell mengutarakan 3 pandangannya dalam mendefinisikan apa itu fungsionalisme, yakni:
  1. Fungsionalisme adalah psikologi tentang mental operation, berkontradiksi dengan psikologi strukturalisme yang berorientasi pada elemen mental. Fungsionalisme mempelajari bagaimana aktivitas kerja dari proses mental, apa yang dikerjakan, dan dalam kondisi apa hal itu terjadi
  2. Fungsionalisme adalah psikologi mengenai fungsi dasar kesadaran dalam menjembatani antara kebutuhan spesies/individu dan lingkungannya
  3. Fungsionalisme merupakan psikologi yang bersifat psikofisikal, yaitu psikologi tentang keseluruhan organisme yang menyangkut penafsiran hubungan antara jiwa dan tubuh
John Dewey
Dewey adalah tokoh pencetus aliran fungsionalisme yang menolak aliran psikologi elementarisme. Ia menyatakan bahwa segala pemikiran dan perbuatan harus memiliki tujuannya. Dalam bidang pendidikan, ia menerapkan prinsip 'learning by doing', di mana seseorang perlu melakukan tugas/pekerjaan secara langsung sembari terus belajar dari apa yang ia kerjakan. Dewey juga berpendapat bahwa persepsi dan gerakan (stimulus-respon) merupakan satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Hal ini dikarenakan setiap perilaku akan berujung kepada respon terhadap stimulus

Aliran Fungsionalisme Columbia
James McKeen Cattel
Cattel adalah tokoh pencetus kata 'tes mental'. Menurutnya, intelegensi dapat diukur melalui studi sensoris dan kemampuan motorik. Terdapat beberapa pandangan Cattel terhadap aliran fungsionalisme, yakni:
  1. Fungsionalisme menganggap manusia sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, fungsionalisme tidak menganut paham dualisme.
  2. Fungsionalisme mempelajari hubungan antar tingkah laku dan tidak perlu deskriptif dalam mempelajarinya
  3. Perkembangan dari fungsionalisme meliputi seluruh cabang psikologi modern
Edward Lee Thorndike
Thorndike terkenal akan 2 hukumnya, yakni the law of effect (hukum efek) dan the law of exercise/the law of use & disuse (hukum latihan). The law of effect menyatakan bahwa peningkatan intensitas hubungan antara stimulus-respon dipengaruhi oleh keadaan menyenangkan yang menyertainya. Berdasarkan the law of exercise, hubungan antara stimulus dan respons dapat melemah bila tidak dilatih atau tidak dilakukan secara berulang-ulang, karena stimulus-respon dapat muncul dengan adanya pengulangan.


BEHAVIORISM

Behaviorisme adalah aliran psikologi yang menolak keras pemikiran aliran fungsionalisme yang menyatakan bahwa kesadaran merupakan objek studi dari psikologi. Behaviorisme memandang konsep-konsep mental sebagai konsep yang tidak nyata dan tidak mempunyai arti/makna pada ilmu tingkah laku. Psikologi haruslah fokus pada tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar yang dapat diamati, bukanlah fokus kepada sesuatu yang tidak nyata (tidak dapat diraba, dilihat, dirasakan, dan diukur) seperti consciousness/kesadaran.

Dalam aliran behaviorisme, ada yang namanya neobehaviorisme. Beberapa prinsip neobehaviorisme yaitu:
  1. Fokus pada proses belajar
  2. Sebagian besar tingkah laku dapat dijelaskan melalui hukum conditioning, sekompleks apapun itu
  3. Mengadopsi prinsip operasionalisme
Beberapa tokoh aliran behaviorisme yaitu:

Ivan M. Sechenov
Sechenov berpandangan bahwa semua perilaku/aksi pada awalnya selalu disebabkan oleh stimulasi yang berasal dari sensori eksternal dan dihasilkan dari proses fisiologis dalam otak. Oleh karena itu, Sechenov menolak pendapat bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh mind

Sechenov menekankan pentingnya inhibisi untuk menjelaskan mengapa manusia sering mengontrol tingkah laku refleks secara sengaja, seperti menahan bersin. Inhibisi juga dapat menjelaskan penyebab ketidaksesuaian antara intensitas stimulus dengan intensitas respon yang muncul. 

Selain itu, ia juga menyatakan bahwa psikologi harus dipelajari menggunakan metode fisiologi objektif, sehingga dapat dikatakan sebagai ilmu yang positif dan ilmiah. Oleh karena itu, ia menolak metode analisis introspeksi dalam menafsir fenomena psikologi

John B. Watson
Watson adalah tokoh pencetus aliran behaviorisme. Ia juga seorang ahli matematika dan filsafat dari Universitas Chicago, yang terkenal akan teorinya mengenai Stimulus-Respon. Ia menyatakan bahwa psikologi harus menggunakan metode empiris yakni observasi, pengondisian, pengujian (testing), dan laporan-laporan verbal. Bebarapa pandangan Watson yaitu:
  • Psikologi merupakan ilmu yang bertujuan untuk memprediksi tingkah laku, dikarenakan terdapat hukum yang mengatur dan mengontrol tingkah laku. Ketika suatu organisme dipapari stimulus, psikologi dapat memperkirakan respons apa yang muncul dari spesies/individu tersebut
  • Tingkah laku tidak didasari oleh free-will maupun unsur herediter, melainkan ditentukan oleh faktor eksternal/lingkungan
  • Watson menolak the law of effect Thorndike dan mendukung teori Classical Conditioning Pavlov. Menurutnya, kebiasaan/habits didapat dari hasil belajar dan merupakan proses pengondisian yang kompleks. Watson menerapkannya pada percobaan fobia terhadap bayi Albert. Dalam eksperimen ini, Watson mendemonstrasikan bagaimana stimulasi dapat dipengaruhi oleh pengalaman sehingga menimbulkan respon emosional
  • Mengenai memori/ingatan, ia berpendapat bahwa semua yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seberapa sering individu melakukan atau menggunakan sesuatu. Kebutuhanlah yang menjadi faktor penentu apakah sesuatu berubah menjadi habit.
  • Watson membuka jalan bagi penelitian-penelitian psikologi yang empiris pada eksperimen yang terkontrol, dikarenakan pernyataan tegasnya bahwa terdapat hukum yang mengontrol tingkah laku dan penolakannya terhadap konsep jiwa/kesadaran

Ivan P. Pavlov
Sejalan dengan Sechenov, Pavlov mempercayai bahwa psikologi harus dipelajari menggunakan metode dan konsep dalam fisiologi. Pavlov dikenal dengan teori yang ia kemukakan, yaitu metode Classical Conditioning. Ia menggunakan anjing sebagai objek penelitiannya. Pertama-tama, anjing diberi stimulus berupa bunyi bel yang kemudian diikuti oleh pemberian makanan. Hal tersebut dibiasakan secara terus menerus dan berlangsung selama berbulan-bulan, sehingga setiap bel berbunyi akan timbul respons berupa air liur dari mulut anjing. Suatu hari, Pavlov mencoba membunyikan bel tanpa menyodorkan makanan. Alhasil, sang anjing tetap bereaksi dengan mengeluarkan air liurnya, karena sudah terbiasa diberi makanan ketika bel dibunyikan. Inilah yang dinamakan dengan proses belajar, yang diyakini juga terjadi pada manusia.
  • Ia menemukan refleks yang dipelajari (Conditioned Reflex), dibuktikan dari produksi cairan lambung anjing yang dipicu oleh pemberian makanan. Ada juga refleks yang tidak dipelajari/bawaan lahir (Unconditioned Reflex), yang dipicu oleh stimulus yang tidak dipelajari (Unconditioned Stimulus/US)
  • Refleks disebabkan oleh stimulus tertentu dan dapat juga terhambat bila ada hambatan. Dalam Exciatory Conditioning, Conditioned Stimulus (CS) akan memicu Conditioned Response (CR). Sedangkan dalam Inhibitory Conditioning, CS akan menghambat CR.

B.F. Skinner
Skinner dikenal dengan teori yang ia kemukakan, yakni metode Operant Conditioning. Berbeda dengan Pavlov, menurutnya tingkah laku merupakan suatu tindakan yang disengaja atau operant behavior, dan terjadi tanpa stimulus yang nyata. Ia berpendapat bahwa organisme beroperasi dalam lingkungannya untuk mendapatkan reward/makanan. Selama hidup dalam lingkungannya, organisme akan berhadapan dengan beragam stimulus, di antaranya reinforcing stimulus yang memperkuat operant (tingkah laku yang tampil persis sebelum bertemu dengan stimulus). Operant conditioning juga disebut sebagai instrumental learning, di mana tingkah laku yang dipelajari merupakan alat untuk mencapai reward/hadiah dan menghindari punishment/hukuman.

Vladimir M. Bechterev
Bechterev adalah pendiri laboratorium eksperimen pertama di Rusia berkat dorongan dari Wundt & Du Bois-Reymond. Ia merupakan tokoh di bidang refleksologi, yakni studi yang sangat objektif terhadap perilaku manusia. Dalam studi ini, ia mempelajari hubungan stimulasi lingkungan dan perilaku yang tampak (overt behavior) seperti ekspresi wajah, gestur, dan gaya bicara

Bechterev bertentangan dengan Pavlov. Ia melayangkan berbagai kritikan terhadap teori conditioning Pavlov, dengan menyatakan bahwa metode tersebut sulit diterapkan pada manusia. Menurutnya, refleks sekresi merupakan suatu hal yang tidak penting dari perilaku makhluk hidup, karena sifatnya yang unreliable dan sulit diukur secara akurat.

William McDougall
Dougall adalah tokoh aliran behaviorisme pertama yang mendefinisikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku. Pada tahun 1905, ia menyatakan bahwa psikologi merupakan ilmu positif dari perilaku makhluk hidup, dan definisi ini ia yakini sebagai definisi terbaik dan paling komprehensif. Dalam bukunya yang berjudul 'An Introduction to Social Psychology', ia menegaskan bahwa seorang psikolog tidak boleh puas dengan pemikiran sempit mengenai psikologi yang terbatas sebagai ilmu kesadaran. Dougall berpendapat bahwa peristiwa mental dapat dipelajari secara objektif melalui pengamatan pengaruhnya terhadap perilaku. 

McDougall mempelajari tipe perilaku purposif/purposive behavior. Perilaku ini bersifat spontan dan tidak memerlukan stimulus, sehingga berlangsung dalam jangka waktu yang relatif lama. Tujuan dari perilaku ini biasanya konstan. Namun jika ada kendala, individu cenderung melakukan perilaku-perilaku lain untuk meraih tujuannya. Purposive behavior akan semakin efektif bila terus dilatih, dan akan berhenti jika tujuan telah tercapai

Dougall vs Watson
Dougall menentang teori Watson bahwasanya insting tidak memiliki pengaruh apapun terhadap perubahan perilaku. Dougall menegaskan bahwa perubahan perilaku erat kaitannya dengan pengaruh dari insting. Menurutnya, setiap organisme memiliki insting sebagai bawaan lahir, yang menjadi motivasi untuk melakukan suatu tindakan dengan cara tertentu. Insting memiliki 3 komponen, yaitu persepsi, tingkah laku, dan emosi. McDougall menyatakan bahwa insting adalah pendorong semua perilaku dari hewan maupun manusia, sedangkan Watson berpendapat bahwa manusia tidak memiliki insting sehingga psikologi seharusnya menghapus istilah insting dalam mempelajari manusia.
Darwin, Intelligence Theory, and Psychology
Senin, 09 November 2020, November 09, 2020


Jika mendengar nama Darwin, pasti kebanyakan dari kita teringat pada teori evolusi. Seperti yang kita tahu, teori evolusi ini ialah teori populer yang dikemukakan oleh Charles Darwin, yang menyatakan bahwasanya manusia adalah hasil revolusi dari kera sebagai nenek moyang manusia. Kera mengalami revolusi dari kera sederhana menjadi kera tingkat tinggi, sampai akhirnya menjadi manusia. Proses evolusi ini terjadi akibat adanya seleksi alam, yang mengusung konsep survival of the fittest yaitu 'yang bisa bertahan hidup ialah mereka yang bisa berevolusi/beradaptasi'. Konsep ini ia dapatkan dari pengamatan Darwin terhadap variasi/keberagaman proses evolusi binatang dalam spesies yang sama atau antar spesies.

Selain itu, Darwin berpendapat bahwa setiap orang memiliki template yang sama, contohnya seperti ekspresi wajah manusia yang bersifat universal. Artinya, setiap orang di seluruh dunia memiliki ekspresi wajah yang sama persis, terlepas dari ras dan budayanya. Contohnya ketika seseorang tersenyum saat mendengar kabar bahagia, di mana hal tersebut sudah menjadi ekspresi yang umum diperlihatkan oleh setiap orang. Menurut Darwin, ekspresi wajah manusia merupakan sesuatu yang bersifat bawaan, yang tidak didapatkan dari hasil pembelajaran atau pengalaman. Ekspresi inilah yang menjadi hasil evolusi emosi pada binatang.

Pengaruh Charles Darwin terhadap Psikologi yaitu:
  • Fokus pada psikologi (tingkah laku dan proses mental) binatang
  • Mengubah fokus ilmu psikologi dari struktur kesadaran ke fungsi kesadaran (fungsionalisme menekankan bagaimana pikiran makhluk hidup berfungsi untuk melakukan adaptasi dengan lingkungan)
  • Menerapkan metode dan menggunakan data dari banyak bidang
  • Fokus pada gambaran dan pengukuran perbedaan individual

Tes Mental dan Teori Inteligensi

Konsep tes mental berawal dari tes inteligensi yang pertama kali dikembangkan oleh Sir Francis Galton. Galton tertarik untuk mengamati perbedaan individual dari teori evolusi Darwin, sehingga ia melakukan prosedur pengukuran inteligensi menggunakan 2 macam tes, yakni tes individual dan tes kelompok. Galton mengukur inteligensi melalui kapasitas sensoris seseorang. Tingkat fungsi sensoris seseorang akan semakin meningkat bila inteligensinya semakin tinggi. Dari penelitian inilah Galton berkontribusi dalam pembuktian bahwa kemampuan mental bersifat turunan (diperoleh secara hereditas) serta pembuktian adanya perbedaan individual pada kapasitas individu.

Inteligensi erat kaitannya dengan bakat, kreativitas, dan prestasi seseorang, yang diukur melalui tes IQ. Ukuran IQ ialah rasio antara umur kecerdasan seseorang dengan umur pada kalender. Teori Inteligensi ini terus mengalami perkembangan, dimulai dari Lewis Terman, Charles Spearman, Sternberg, Lewis L. Thurstone, James P. Guilford, hingga Howard Gardner. 

Inteligensi Menurut Charles Spearman

Teori inteligensi menurut Spearman dikenal sebagai teori inteligensi dwifaktor atau bifaktor. Hal ini berdasarkan pernyataannya bahwa inteligensi manusia terdiri atas 2 faktor, yakni faktor yang bersifat umum (general factor atau 'g') dan faktor yang bersifat khusus (specific factor atau 's'). Adanya kedua faktor ini dikarenakan kecerdasan manusia yang juga dibagi ke dalam 2 macam, yakni kecerdasan umum (general ability) dan kecerdasan khusus (specific ability). Faktor umum inilah yang mendasari semua tingkah laku manusia, sedangkan faktor khusus hanya mendasari tingkah laku tertentu.

Menurut Spearman, terdapat keberagaman atau variasi jumlah dari faktor inteligensi umum (g) pada setiap individu. Faktor g ini menjadi penentu tingkat kecerdasan seseorang, sehingga dapat diketahui apakah orang tersebut secara umum termasuk ke dalam kategori orang yang cerdas atau bodoh. Oleh karena itu, jumlah g yang dimiliki individu sangat berpengaruh terhadap tingkat kemampuannya dalam mengerjakan soal tes inteligensi.
Modern Psychology
Selasa, 27 Oktober 2020, Oktober 27, 2020


Di zaman sekarang, kita bisa melihat bahwa psikologi berkembang pesat sebagai suatu disiplin ilmu yang modern. Dalam pencapaian tersebut, tentunya dibutuhkan berbagai proses panjang agar psikologi dapat dikatakan sebagai ilmu modern. Pada tahun 1800-an, terdapat sebuah teori yang sangat merebak di kalangan masyarakat Eropa dan Amerika, bahkan hingga abad ke-20. Teori ini dinamakan sebagai teori Phrenology, di mana teori ini bersifat non empiris dan terdapat kekeliruan dalam memahami psikologis seseorang. Contohnya seperti pendapat bahwa sifat manusia dapat terlihat dari benjolan di tengkoraknya.

Pada masa itu, teori Phrenology sering digunakan untuk mengetahui apakah suatu perusahaan akan merekrut karyawan tertentu, apakah seorang anak bisa bersekolah, atau untuk mengetahui metode apakah yang tepat dalam mendidik anak. Berawal dari masa kejayaan teori inilah, psikologi mulai dipelajari secara ilmiah, yaitu dengan mencari metodologi ilmiah dan tidak lagi menerka-nerka seperti yang dilakukan para ahli psikologi sebelumnya. 

Proses lahirnya psikologi modern tak lepas dari peran serta Wilheim Wundt, seorang ahli psikologi kedokteran sekaligus filsuf dan fisiolog asal Jerman. Pada tahun 1873, Wundt mengumumkan niatnya untuk mempelopori perubahan psikologi menjadi suatu ilmu yang ilmiah. Kemudian ia mengutarakan gagasannya untuk membangun laboratorium psikologi pertama pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman, sebagai tahap awal dari upaya untuk merealisasikan niatnya tersebut. Pembangunan ini bertujuan untuk memudahkan para ahli psikologi dalam menemukan dan mengkaji objek kajian psikologi. Di dalam laboratorium Wundt inilah, banyak kalangan yang melakukan penelitian sekaligus menjadikan lab tersebut sebagai tempat belajar bagi mereka yang ingin menjadi seorang psikolog.

Atas gagasan Wundt dan jasa besarnya dalam mempelopori gerakan untuk menjadikan psikologi sebagai ilmu yang ilmiah, akhirnya ia pun dinobatkan sebagai bapak psikologi modern. Jika tidak dari niat baik Wundt ini, bisa jadi sampai sekarang psikologi masih merupakan ilmu yang non-ilmiah.


ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI 

Setelah Wundt sukses dalam pembangunan laboratorium psikologi miliknya, muncullah beberapa aliran dalam psikologi yang juga berusaha untuk mempelajari psikologi secara ilmiah.

1. Strukturalisme
Salah satu murid Wundt yaitu E.B. Titchener, menyebut pendekatan yang Wundt lakukan dengan nama strukturalisme. Sama halnya seperti Wundt, para strukturalis berharap dapat menganalisis berbagai sensasi, gambaran, dan perasaan ke dalam elemen-elemen dasar. Contohnya ketika seseorang diminta untuk memakan sebuah jeruk, rasa apa sajakah yang mereka rasakan ketika mengunyah jeruk tersebut? Apakah rasanya manis dan asam, hanya manis atau hanya asam saja, atau adakah pendapat-pendapat lain ketika mencicipi sebuah jeruk tersebut.

2. Fungsionalisme
Fungsionalisme ini bertentangan dengan strukturalisme yang ingin menguraikan perilaku menjadi komponen-komponen dasar, karena fungsionalisme ingin mengetahui apa saja fungsi dan tujuan perilaku seseorang beserta alasan dibalik semua tingkah lakunya. Aliran ini memperluas bidang psikologi dengan melakukan penelitian terhadap anak-anak, hewan, dan pengalaman religius, sehingga cakupannya lebih luas daripada aliran strukturalisme. Salah satu pemimpin fungsionalisme ialah William James.

3. Psikoanalisis
Aliran ini dirumuskan oleh seorang neurolog asal Austria bernama Sigmund Freud. Psikoanalisis merupakan sebuah teori kepribadian dan metode terapi yang menekankan pada motif serta konflik yang tidak disadari. Freud berpendapat bahwa depresi, kecemasan, dan sejumlah kebiasaan obsesif bukanlah disebabkan oleh kondisi fisik seseorang, melainkan oleh mentalnya yang tidak sehat. Contohnya ketika seorang anak dibentak oleh kedua orangtuanya atau mengalami kekerasan pada masa kanak-kanaknya, maka tidak bisa dipungkiri akan adanya potensi depresi pada anak tersebut saat ia kelak menginjak usia dewasa. Freud juga berpendapat bahwa kesadaran yang manusia ketahui ibarat puncak gunung es saja, dan di bawah permukaan yang terlihat terdapat bagian pikiran yang tidak kita sadari (alam bawah sadar)

4. Behaviorisme
Aliran behaviorisme fokus pada perilaku yang terbentuk sebagai hasil dari proses belajar. Menurut teori behaviorisme, terdapat hubungan antara simulus dengan respon seseorang terhadap stimulus tersebut. Respon dan perilaku tertentu akan muncul melalui metode pembiasaan. Semakin intens pembiasaan yang dilakukan seseorang dalam membentuk suatu perilaku, maka dapat dikatakan bahwa perilaku tersebut akan semakin 'mendarah daging' pada dirinya. Sebaliknya, perilaku tersebut akan perlahan hilang jika diberikan sanksi atau hukuman

5. Humanistik
Teori humanistik menekankan bahwa manusia harus dipahami secara keseluruhan. Menurut aliran humanistik, tujuan belajar ialah untuk memanusiakan manusia. Manusia pada dasarnya adalah baik, sehingga hal-hal baik yang manusia miliki harus dioptimalkan sebaik mungkin.

6. Gestalt
Aliran Gestalt pada awalnya muncul di Jerman sebagai kritik terhadap strukturalisme Wundt. Pandangan Gestalt menolak bahwa jiwa dibagi menjadi elemen-elemen kecil, karena dikhawatirkan maknanya akan hilang dan berubah bentuk. Pandangan utama dalam aliran ini ialah apa yang dipersepsi merupakan suatu kesatuan yang utuh, sehingga muncullah 6 prinsip yaitu similarity, proximity, figure and ground, dan continuity.

7. Kognitif
Kognitif ialah aliran yang menekankan pada pengolahan informasi oleh otak manusia, sehingga manusia dapat memahami, belajar, dan mengingat informasi tersebut. Menurut teori kognitif, tingkah laku manusia dapat dijelaskan melalui bagaimana seseorang dapat menafsirkan suatu informasi.
2nd Topic: Sensation & Perception
Selasa, 29 September 2020, September 29, 2020


Dalam kehidupan sosial, manusia seringkali memiliki persepsi atau tafsiran berbeda ketika melihat suatu kejadian atau fenomena. Seperti contoh gambar di atas, terlihat seekor singa betina sedang 'melahap' anaknya. Banyak dari kita yang tentu sudah tahu jika induk singa tersebut sedang memindahkan anaknya, bak induk kucing yang menggigit tengkuk anaknya saat hendak dipindahkan ke lain tempat. Tapi bagi sebagian orang yang tidak tahu tentang hal ini, justru bisa jadi ia menganggap induk singa tersebut sedang memakan anaknya sendiri. 

Berbicara tentang persepsi dalam psikologi, pasti ada sangkut pautnya dengan sensasi. Sensasi adalah proses aktivasi reseptor dari organ-organ tertentu di tubuh kita. Sederhananya, sensasi ialah proses penerimaan informasi berupa stimulus. Stimulus yaitu rangsangan yang dapat dirasakan oleh panca indera kita, seperti suara, cahaya, bau, dan sebagainya. Contohnya seperti suara jangkrik saat malam tiba. Suara jangkrik tersebut akan mengaktifkan reseptor sensorik yang ada di telinga kita, lalu kemudian stimulus tersebut akan diteruskan ke impuls neural dan akhirnya diterima oleh otak. Informasi atau stimulus yang sudah diteruskan ke otak kemudian akan diproses dan diterjemahkan agar dapat dimengerti oleh otak sebagai sesuatu yang lebih bermakna. Nah, proses penerjemahan informasi inilah yang dikatakan sebagai persepsi. Namun, dalam proses sensasi dan persepsi ini ada yang namanya sensory threshold, di mana manusia memiliki batas atau ambang mutlak terendah (absolute threshold) dalam penerimaan stimulus. Dibutuhkan minimal 50% dari munculnya stimulus tersebut agar bisa terdeteksi oleh indera. Contoh, seseorang dapat mendengar bunyi detik jam dari jarak sekitar 6 meter di sebuah ruangan sunyi.


HABITUATION & SENSORY ADAPTATION

Habituasi ialah keadaan di mana otak tidak lagi memperhatikan stimulus yang diterima, karena sudah terbiasa dengan kehadiran stimulus tersebut. Habituasi ini contohnya dialami oleh masyarakat yang tinggal di pinggir rel kereta api. Kereta api yang lalu lalang setiap waktu tentu saja mengeluarkan suara yang bising. Karena mereka mendengar suara bising kereta hampir setiap hari, mereka akhirnya jadi terbiasa mendengar suara tersebut sehingga suara kereta tersebut sudah tidak lagi menjadi suatu kebisingan bagi mereka.

Tentu beda ceritanya bila seseorang yang tidak tinggal di pinggir rel memutuskan untuk pindah ke pemukiman di pinggir rel. Orang tersebut pada mulanya pasti akan merasa terganggu dengan kebisingan suara kereta, karena ia tak terbiasa mendengar suara-suara itu sebelumnya. Namun jika ia sudah menetap dalam rentang waktu yang lama, maka secara perlahan reseptor sensorik di telinganya akan menjadi kurang responsif terhadap suara kereta tersebut. Sehingga lama kelamaan ia juga akan terbiasa dengan suara kereta tersebut.

Selain habituasi dan sensori adaptasi, ada juga yang dinamakan saccades. Misalkan ketika seseorang sedang mengendarai mobil lalu tiba-tiba ada lampu berkedip di kaca spion, tentu orang tersebut akan refleks melirik ke kaca spion untuk melihat lampu kendaraan lain tersebut. Inilah yang disebut dengan saccades, di mana seseorang refleks menggerakkan matanya secara cepat tanpa disadari.


PERCEPTUAL CONSTANCIES

Persepsi atau proses penerjemahan informasi oleh otak pada setiap orang dapat berbeda-beda, tergantung pada posisi atau keadaan seseorang dalam melakukan persepsi tersebut. Persepsi sendiri memiliki beberapa ketetapan/constancies yang dapat mempengaruhinya, yaitu:
  • Size constancyKecenderungan seseorang untuk menginterpretasikan bahwa objek yang ia lihat mempunyai ukuran yang sama dengan ukuran asli objek tersebut, terlepas dari seberapa jauh jarak penglihatan mata terhadap benda itu. Contohnya ketika sedang melihat matahari di siang hari dari balik kacamata hitam, tentu kita sadar bahwa ukuran asli matahari tidak sekecil yang kita lihat dari bumi.
  • Shape constancyKecenderungan seseorang untuk menginterpretasikan bahwa bentuk objek tidaklah berubah, terlepas dari arah mana mata memandang. Coba perhatikan ilustrasi berikut.


Pada gambar di atas, kita tahu bahwa pintu tersebut tetaplah berbentuk persegi panjang, meskipun jika dilihat dari depan bentuknya di mata kita sudah bukan lagi persegi panjang saat pintu tersebut terbuka.

  • Brightness constancy Kencenderungan seseorang untuk menginterpretasikan bahwa warna objek tetaplah sama dengan warna aslinya dan tidak berubah, meskipun kondisi pencahayaannya berubah ketika dipandang.


Masih ingatkah dengan foto dress yang sempat viral ini? Foto ini sempat memicu perdebatan di sosmed mengenai warna aslinya. Ada yang bilang berwarna biru hitam, ada juga sebagian yang bilang putih-emas. Padahal baju tersebut aslinya berwarna biru-hitam, karena pencahayaannya saja yang membuat baju tersebut tampak berwarna putih-emas.


GESTALT PRINCIPLES

Coba perhatikan pemandangan di bawah ini


Gambar apa yang pertama kali terlihat? apakah macan kumbang dan seekor burung, atau justru sesosok wajah? Dalam prinsip Gestalt, inilah yang dinamakan figure and ground illusion, dimana sebuah ilustrasi seperti contoh di atas dapat mengecoh otak kita dalam membedakan manakah yang termasuk objek dan mana yang termasuk backgroundnya.
 

FACTORS THAT INFLUENCE PERCEPTION

Secara umum, persepsi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal di sini berasal dari dalam diri seseorang, seperti kondisi atau keadaan emosi, minat, dan pengalaman pribadi. Pengalaman-pengalaman pribadi yang menjadi patokan seseorang ketika membuat persepsi disebut sebagai perceptual set. Dengan kalimat lain, perceptual set merupakan kecenderungan seseorang untuk menginterpretasikan sesuatu berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sedangkan faktor eksternal ialah yang berasal dari lingkungan luar. Faktor eksternal ini dapat membuat seseorang salah dalam membentuk persepsi, seperti ketika ada gangguan-gangguan atau miskomunikasi pada saat seseorang menerima informasi dari media sosial.


Read next >> Motivasi & Emosi
older